Chit-Chat Atau Ngegosip?
Gosip, mendengar kata itu saja langsung jelas tercermin ke-negatifannya. Gosip layaknya hidangan wajib dalam suatu obrolan yang sulit untuk dihilangkan. Seperti sambal yang tidak pernah luput membakar nafsu obrolan menjadi lebih fantastis.
Jujur? Tidak bisa dipungkiri lagi, kita semua baik laki-laki maupun perempuan pasti pernah bergosip. Atau mungkin termakan desas-desus kabar burung dalam obrolan, yang mau tidak membawa kita untuk ikut nimbrung juga menuju meja per-gosip-an.
Dari obrolan sederhana di warung kopi, hingga obrolan mewah di kafe-kafe. Dari obrolan mengenai teman yang menyebalkan, hingga obrolan menggunjing para pesohor. Gosip menyebarkan rumor dengan mudahnya di udara, dan dihirup dengan mudah oleh mereka yang nafasnya sesak akan sebuah kabar.
( https://4.bp.blogspot.com )
Terlebih lagi di era
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, semua hal dapat dipermudah dengan
penemuan-penemuan mutakhir. Termasuk tersebarnya rumor, yang makin mudah bersliweran. Hati-hati, biasanya kalau
suasana panas rumor mengenai kaos kaki bolong saja bisa menjadi berita besar
yang menggemparkan.
Obrolan
antar teman, antar sahabat, antar keluarga, antar partner kerja, bahkan antar pasangan hidup juga semakin mudah
sekarang. Yuk buat grup ini, yuk buat grup itu, ditengok isinya ya hanya
membicarakan borok orang lain. Gosip sungguh berdaya di kehidupan kita, bahkan
kekuataan gosip dapat dengan mudahnya merobohkan citra seseorang di mata publik.
Gosip
sebenarnya timbul dari sikap kritis kita akan suatu rumor, ditambah dengan
sedikit taburan ke-kepo-an di dalamnya. Belum lagi ditambah dengan perisa subjektivitas
dari dalam diri kita sendiri. Terhidangkanlah sebuah rumor menjadi lebih
menarik di pandangan kita sendiri, entah esensi kebenarannya masih ada atau
tidak, yang penting kita paling benar.
Seno
Gumira Ajidarma dalam tulisannya pernah mengatakan bahwa kebenaran yang
sesungguhnya tetap out there
mustahil bisa melihat dunia secara objektif ketika kita
masih berada di dalam dunia itu sendiri. Jadi menurutnya, yang ada bukan
kebenaran, melainkan pembenaran.
Jadi,
sudahkah kita menjadi selektif menentukan bahan untuk chit chat? Lalu, sudahkah kita mencoba untuk tidak tersulut rumor
murahan yang bersliweran dengan
bebasnya di udara?
Written By
Unknown
Panggil aja Herdi! Si Herdi ini masih mahasiswa, kalo kepo mau tau orangnya, cari aja di Gedung Z Politeknik Negeri Jakarta, kelas Penerbitan 2015-B.Similar to this Post
Arsip Blog
Diberdayakan oleh Blogger.
Pe-nu-lis
Blog ini ber-isi-kan berbagai hasil kerja si Herdi, rencananya si Herdi ingin mempraktekan ilmu yang dia dapat selama kuliah. Bagaimana jadinya? Yuk simak terus blog ini.
11 komentar:
mungkin sudah kodratnya manusia seperti itu, ada benernya juga sih wkwk
BalasHapusKetawain realita aja sih ini mah mas... Semoga kita semua bisa bebas dari rayuan gosip. Sip?
HapusSemua yg anda tulis sesuai dengan fakta bahwa tanpa kita sadari kita bahwa kita pernah melakukannya. Dan menghindarpun tetap akan sama. Walaupun konteks obrolannya positif..
BalasHapusSeperti yg saya katakan mba, itu memang seperti bumbu dalam obrolan..
HapusHai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang
BalasHapus(Surah al-Hujurat(49):12) #selfreminder makasih herday!
wauwwww ditambahin landasan nih sama mba elva, makasih banyak mba elva! Sama-sama #selfreminder lah ya kita!
HapusThe thing is, manusya demen banget bang kayanya nyebarin hal yang didapat tapi belom terkonfirmasi dan verifikasi. Manusya juga kayanya demen banget sama persoalan pribadi orang lain, ya jadi gitu dey. Soalnya manusya makhluk sosyel kan? Wkwk
BalasHapuskaya yang saya bilang tuh mbanya, obrolan lebih gurih emang kalo dikasih bumbu-bumbu begitu, tapi ya tetep sih harusnya kita semua tetep paham apa arti konfirmasi dan verifikasi, biar kaga jadi gosip, sip?
HapusNasihat bagus untuk kita semua, terima kasih renungannya.. tapi kalau bisa di akhir kata kasih ajakan juga ke pembaca untuk tidak bergosip hehe.
BalasHapusPenutup tulisan ini saya gunakan kalimat tanya mbak. Dari situ menurut saya tulisan ini sudah memberikan ajakan. Ya ajakan untuk merenung dahulu, tidak bergosipnya? Liat nanti saja apa renungannya berhasil hehe...
HapusDan terima kasih untuk apresiasinya!
yah emang begitu manusia, jarang sekali orang yang dapat membicarakan kejelekan orang lain.
BalasHapus