Awal Oktober lalu publik dikagetkan dengan keputusan Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Barat yang melarang transportasi online beroperasi. Keputusan ini
sesuai dengan kesepakatan bersama antara Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat
dengan Wadah Aliansi Aspirasi Transportasi (WAAT) yang melarang angkutan umum yang
berbasis aplikasi ini untuk tidak beroperasi hingga diterbitkannya peraturan
baru yang sah.
WAAT sebagai pihak yang menginisiasi
kesepakatan menginginkan kejelasan regulasi atas transportasi jenis online. Mereka
juga menuntut kesetaraan antara pihaknya dengan transportasi online, seperti
pembuatan tanda uji KIR
kendaraan, penggunaan nomor polisi kuning pada setiap kendaraan, bayar pajak yang sama dan
sesuai, hingga syarat administrasi lain
seperti angkutan konvensional pada umumnya.
Selain Jawa Barat beberapa daerah juga telah melarang pengoperasian transportasi online. Jogjakarta contohnya yang melarang transportasi online karena berpotensi melemahkan kendaraan transportasi berplat kuning, menurut PLT Kepala Dinas Perhubungan DIY Gatot Saptadi rencana pelarangan ini akan diimbangi dengan penambahan armada transportasi dalam kota yaitu TransJogja.
Sejak kemunculannya beberapa tahun yang lalu, transportasi online memang telah membuat banyak kontroversi, mulai dari penolakan, pemboikotan, bahkan di beberapa kasus berujung dengan tindak kekerasan. Kebanyakan kontroversi hadir karena kefleksibelan transportasi online dalam beroperasi. Kemudahan dan tarif yang sesuai menjadi nilai plus bagi moda transportasi baru ini.
Dengan segala kemudahannya tidak bisa dipungkiri memang transportasi online sedikit mengambil pelanggan dari para pengemudi transportasi konvensional. Tidak heran pula kontroversi dapat muncul karena hal tersebut. Lalu apakah pelarangan transportasi online adil?
![]() |
| http://www.netralnews.com |
Mari kita berfikir netral disini,
transportasi online memang sudah menjadi salah satu moda transportasi yang
favorit dewasa ini. Kemudahannya lah yang diincar para konsumen dibanding
dengan menggunakan angkutan umum dengan segala masalahnya, dari macet, ngetem, rute yang kurang fleksibel dan
lain sebagainya.
Namun, para pengemudi transportasi konvensional pun tidak bisa kita lupakan begitu saja. Kita bisa mengakui bahwa ini sudah menjadi persaingan dua produk di pasar, tetapi tetap kejelasan hukum dan kesetaraan sudah seharusnya dipikirkan matang-matang.
Setiap hal memiliki kekurangan maupun kelebihan, tidak ada hal yang sempurna di dunia ini. Dalam ketidaksempurnaan dan perbedaan sudah seharusnya kita bisa menjadikan situasi kondusif.
Khususnya dalam hal transportasi online dan transportasi konvensional ini sudah seharusnya kedua belah pihak bersaing secara sehat. Tidak lupa saling menghargai satu sama lain meskipun sedang berkompetisi.
Senada dengan yang dikatakan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menurutnya baik transportasi online maupun konvensional saat ini mendapatkan tantangan yang berbentuk positif, dan sudah seharusnya dijadikan ajang persaingan yang sehat. Semua harus memberikan terbaik untuk masyarakat di tengah perkembangan teknologi.
Ganjar juga menegaskan bahwa yang
sering menjadi kontroversi adalah kesetaraan peraturan antara transportasi
online dan konvensional. Jadi, di depan mata hukum sudah seharusnya pihak yang
berwenang mengatur regulasi dengan sebaik-baik dan seadil-adilnya.
Suatu
siang di dalam sebuah gerbong
kereta api dari Jakarta menuju Bandung, suasana tampak lengang, lebar, dan
sunyi. Memang, kala itu
bukan hari libur ataupun musim mudik, tidak heran banyak kursi yang kosong
tanpa penumpang.
Di tengah heningnya suasana, tiba-tiba muncul suara anak
kecil yang sedang bersenandung, suaranya yang cukup nyaring merebak ke seluruh
gerbong. Samar-samar terdengar alunan nada yang tidak asing masuk ke dalam
gendang telinga, apalagi bagi mahasiswa ataupun remaja tanggung.
“A won gip ap na na na, des on gip ap na na na. Le mi
lovyuuu le mi lovyuuu,” dengan ejaan dan lirik semaunya, bocah itu
mendendangkan salah satu lagu dari Justin Bieber, padahal umurnya belum genap 5
tahun.
Beberapa orang pun kaget bukan kepalang dibuatnya, begitu
pula sepasang kekasih yang duduk bersampingan, mereka saling berbisik. “Itu
lagu Justin Bieber kan? Yang nyanyi kok bocah kecil ya,” ujar si perempuan,
lalu dibalas dengan tawa pelan lelakinya.
![]() |
| antaranews.com |
Di tengah konser kecilnya, anak itu dihampiri seorang penumpang laki-laki yang duduk di set kursi sebelahnya.
“Dek nyanyi lagu apa tuh?” tanya lelaki tersebut.
“Lagu Justin Bibel om,” jawab si anak kecil dengan lugu
dan sedikit cadel.
“Oh gitu, kamu tahu lagunya darimana dek?” tanya lelaki
itu makin penasaran.
“Tahu dari YouTube om, om emang gak tahu ya?” jawab anak
itu lagi dengan lugu.
Sungguh ironis sekali, untuk ukuran anak dibawah umur
seperti itu mendengar bahkan mendendangkan lagu yang bukan untuk dia konsumsi. Parahnya
lagi dia melakukannya dengan percaya diri, padahal dia pun belum paham makna
lagunya.
Dasar kids jaman
now (anak zaman sekarang.)
Renungan
Kisah nyata yang diabadikan penulis diatas, sudah
sepantasnya bisa menjadi renungan bagi kita semua. Ya kita semua, kita yang
memiliki anak, kita yang memiliki adik kecil, ataupun kita yang memiliki sepupu
dan keponakan yang masih anak-anak.
Sudah seharusnya sebagai orang tua, kita kembali memberi
pantauan lebih kepada apa yang dikonsumsi anak-anak. Khususnya, untuk konten di
internet yang mudah diakses melalui gawai, tidak dapat dipungkiri memang gawai
tidak bisa lepas dari kehidupan kita sehari-hari.
Memang banyak fitur dalam gawai yang berguna bagi
anak-anak. Bahkan beberapa diantaranya mendukung pertumbuhan atau menambah
wawasan, tapi tetap kita tidak bisa lepas begitu saja dalam memantau.
Kemajuan teknologi yang mendorong percepatan pertukaran
informasi, bukan hanya memberikan keuntungan saja. Nyatanya memang masih banyak
keburukan yang harus kita waspadai di dalamnya, apalagi untuk anak-anak.
Jadi, jangan pernah lelah untuk mendampingi dan memantau anak-anak dengan gawainya.
Dengan penuh kesederhanaan dan kejujuran, Jason Ranti
hadir di tengah belantara musik Indonesia. Bagaikan ksatria bersenjatakan gitar
akustik, dia menyenggol realitas di sekitarnya dengan lirik yang nyentil sekaligus nyolot.
Konyol, kocak, dan padat kritik, persepsi itu yang kemungkinan
besar tertangkap dari aksinya di atas panggung. Tidak heran dalam setiap penampilannya
sering sekali diselingi tawa para penonton dan penggemarnya.
Dari keluh kesah anak seni,
hingga lipstik warna pink, mulai dari pemabuk hingga aksi ormas, dia celotehkan
keresahannya, mencerminkan pemikirannya yang mendalam akan hal-hal yang muncul
disekitarnya.
“Akibat Pergaulan Blues” album debut Jason, menyita
perhatian banyak pasang telinga akan kejeniusannya. Album ini digarap dengan
format solo, setelah dia bosan dengan ketidakjelasan bandnya terdahulu,
Stairway to Zinna.
Kejeniusan musisi ini bukan terletak dari kemampuan bermain gitar yang
rumit dan atraktif, yang dapat membuat rangkaian nada yang terdengar begitu indah dan syahdu. Dengan permainan gitar
yang cenderung simple dan pemilihan
nada yang gitu-gitu aja, dia berhasil
menonjolkan lirik jujur, kritis, dan humoris, sehingga makna satire dan sarkasme muncul begitu dalam dan kuat.
![]() |
| thecrafters.co |
Dalam “Bahaya Komunis” salah satu karyanya, dia
menuangkan keluh kesahnya dengan blak-blakan. Karya yang satu ini ia tuliskan
dengan logika yang terbalik.
Diawali
kegelisahannya dengan sebuah kisah, bahwa ada
seseorang yang berpendapat, patung Tugu Tani seharusnya dirobohkan karena itu
mewakili kaum tani yang dekat dengan PKI. Parahnya lagi, patung tersebut diyakini memegang arit, simbol kaum kiri (komunisme).
Terus
terang aku khawatir
Dengan komunis di tanah air
Yang belakangan hidup kembali
Dari dalam gang, di pikiran, di pinggiran, di selangkangan
Ini mungkin tanda-tanda kudetanya yang mutakhir
Ooo.. telepon nine one one!
Dengan komunis di tanah air
Yang belakangan hidup kembali
Dari dalam gang, di pikiran, di pinggiran, di selangkangan
Ini mungkin tanda-tanda kudetanya yang mutakhir
Ooo.. telepon nine one one!
Jason mencelotehkan paranoidnya orang-orang yang
pemikirannya dangkal dan tidak mendalam tentang suatu hal, di tengah realitas
banyak yang cepat terpancing isu tanpa mendalami segala kebenarannya. Dengan pemilihan
kata yang cenderung slebor, dia
berhasil memberikan makna secara nyata dan eksplisit mengenai pendapatnya.
Oh
ya Tuhan lindungi aku selalu, Ya Tuhan jagalah aku selalu
Dari
honor yang horror, Ibu-Ibu lembaga sensor , Security yang punuh teror
Karena
apa salahnya nakal, karena kubukan polisi moral
hahay..!
Lirik diatas
diambil dari karya Jason yang lain, berjudul “Doa Sejuta Umat” di dalamnya dijabarkan
pendapatnya mengenai kebebasan berekspresi dan berkreasi bagi para seniman,
khususnya musisi sepertinya. “...Ibu-Ibu lembaga sensor...” mencerminkan
keinginannya agar karya-karyanya tidak ada yang dicekal, karena memiliki lirik
yang keterlaluan.
Dia ingin
memberikan pesan bahwa sebenarnya tidak ada batasan dalam estetik seni saat
berkarya, liriknya yang slebor dan
cenderung kasar bukan berarti bisa menyudutkannya dan mencekalnya. Justru keberaniannya
harus diapresiasi, karena memang seni tidak kenal limitasi.
Penasaran
dengan karyanya, silahkan klik video di bawah ini.
Parekh and Singh, duo pop
minimalis dari India muncul menggebrak dunia musik India. Bukan dengan membawa
sitar atau tabla, bukan juga memainkan musik untuk bergoyang di taman. Musik yang mereka bawakan benar-benar sangat tidak “India” sekali.
Muncul dari daerah Kolkata,
dengan ciri khas setelan jas unik berwarna pastel. Mereka berhasil menyihir
telinga para penikmat musik India dengan musik yang khas dengan sentuhan dream-pop, yang membuat penikmatnya
memasuki alam fantasi dan imajinasi mimpi dalam setiap detik karyanya.
Awalnya, Nischay Parekh dan
Jivraj Singh, tergabung dalam proyek solo bertajuk “Nischay Parekh”. Singh yang
memainkan alat perkusi hanyalah kolaborator di dalamnya, bersama Pedro Zappa
pada bass, dan George Dylan pada piano. Mereka berhasil merilis secara
independen album “Ocean” pada 2013.
Karya kolaborasi ini sempat
diganjar dengan penghargaan “The Best Indians Album of the Year,” dari Rolling
Stone India. Hingga akhirnya pada tahun 2015, mereka mengganti nama menjadi
“Parekh and Singh”, setelah dua rekan kolaboratornya memilih memisahkan diri,
dan menegaskan formasi duo mereka.
Pada Oktober 2016, dengan nama
dan formasi baru mereka merilis ulang “Ocean,” dengan menggandeng label musik
indie di Inggris, Peacefrog. Lalu merilis single
“I Love You Baby, I Love You Doll,” “Philosophize,” dan “Ghost.”
Nama “Parekh and Singh” dipilih
karena duo minimalis ini terinspirasi dengan aksi panggung musisi seperti
“Simon and Garfunkel” dan “Hall and Oates”. Dalam setiap karyanya unsur
kebarat-baratan sangat kental dalam jati diri mereka.
Bahkan, dalam pembuatan video
klip “I Love You Baby, I Love You Doll” mereka mengaku terinspirasi dengan
sentuhan estetik dari sutradara film Amerika, Wes Anderson. Sehingga membuat
video klipnya berhasil menyentuh angka 1.000.000 views di YouTube, angka yang cukup besar untuk pencapaian musisi
indie.
Selain itu gaya berpakaian mereka
juga sangat bernuansa western, dengan
setelan jas tahun 50an lengkap dengan dasinya yang rapih tersimpul, dan sepatu suede menghiasi kaki. Dalam setiap
penampilannya, Parekh sang gitaris sekaligus lead vocal juga menggunakan gitar dengan aksen yang antik.
Musik
Karya Parekh and Singh mengusung
pop-folk dengan sentuhan neo-psydhelic, terbukti dengan kejeniusan Parekh
mengaplikasikan beberapa pemakaian efek gitar dan synth setiap lagunya. Ditambah
dengan tambahan tabuhan drum Singh, yang bukan hanya mengatur tempo setiap
lagunya tetapi juga menghidupkan suasana di dalam setiap karyanya.
Karena hal tersebut, setiap
karyanya memiliki unsur fantasi dan imajinasi yang bisa membuat penikmatnya
melayang-layang dalam khayalan. Tidak heran apabila kita mengatakan mereka
sebagai duo dream-pop.
Dengan musik yang diusungnya,
karya Parekh and Singh sangat direkomendasikan sebagai lullaby alias pengantar tidur, karena setiap karyanya dapat memancingmu
untuk tertidur lalu membawamu ke dunia mimpi. Contohnya, lagu berjudul
“Philosopize” yang kaya dengan fantasi dan imajinasi, ataupun “Ghost” yang
membawa kita larut dalam khayalan.
Penasaran sama karyanya? Langsung aja liat salah satu video klip mereka dibawah ini.
Pernah kah anda merekomendasikan
sebuah lagu kepada teman, lalu dibalas dengan respon yang cukup aneh, hingga
disebut “musik apaan sih yang lu denger nih?” Apabila telah merasakannya
mungkin anda merupakan salah satu penikmat musik indie. Memangnya apa sih musik
indie?
Musik indie adalah karya seni musik yang dibuat oleh musisi yang memilih untuk berdikari (berdiri di kaki sendiri), mulai pembuatan musiknya, rekamannya, hingga pendistribusiannya, dibanding dengan masuk ke dalam suatu perusahaan rekaman besar. Satu hal yang paling membedakan musik indie adalah setiap karyanya layak disebut dengan anti-mainstream.
Lalu mengapa mereka sangat berusaha untuk berdikari, padahal akan membutuhkan lebih banyak usaha di dalamnya? Industri musik indie sendiri mengedepankan idealisme musisi yang biasanya memiliki karya yang tidak ramah dengan arus mainstream, dari situ rasa tidak ingin diintervensi muncul, sehingga mereka membuat arus sendiri, dengan pra-sarana yang dibuat sendiri juga.
Menurut Cholil Mahmud salah satu personil Efek Rumah Kaca, pada wawancaranya dengan supermusic.id mengatakan bahwa musik indie adalah musik bebas yang tidak dikendalikan oleh orang lain atau tidak bergantung pada yang lain, dalam hal ini yang dimaksud pengendali adalah industri rekaman yang memiliki segudang pra sarana dan ditunjang modal besar.
Cholil juga menjelaskan, bahwa relasi kekuatan antara perusahaan rekaman yang bermodal besar dengan musisi seringkali tidak setara, sehingga dari ketidaksetaraan tersebut dimanfaatkan oleh perusahaan untuk mengintervensi proses kreatif demi membuat musisi tersebut tetap sesuai dengan tujuan perusahaan. “Karena itu, independensi musisi atau band tersebut perlahan tergerus,” tambahnya.
(https://encrypted-tbn0.gstatic.com)
Mudah dikenal atau tidak
Semua
musisi dalam membuat suatu karya pasti ingin karyanya dikenal sehingga bisa
diapresiasi. Lalu apakah musisi indie karyanya dapat dikenal dengan mudah?
Soleh
Solihun seorang jurnalis musik, dalam wawancaranya dengan whiteboardjournal.com, menjelaskan bahwa musik indie belum menarik secara
pemberitaan, karena kebanyakan media besar juga belum memberi cukup ruang untuk
musik indie. Mereka terlalu mengotak-ngotakkan antara musik indie dan major,
sehingga orang jadi sulit untuk tahu ada musik yang baru, terlebih lagi di
televisi sudah jarang program musik yang dibuat.
“Tidak
perlu bicara soal band indie yang ekstrim, sebut saja band indie yang nge-pop
seperti White Shoes and the Couples Company atau Mocca, yang tidak sulit
didengar khalayak umum. Itu aja yang mudah untuk didengarkan, jarang diputar,”
keluh Soleh.
Peranan
media besar memang sangat dominan dalam memperkenalkan musik indie ke
masyarakat. Meskipun, dengan kehadiran internet dan kemajuan teknologi yang
semakin canggih, yang dapat membuat beragam platform
yang dapat memperkenalkan musik indie, masih saja banyak orang yang kurang
tertarik untuk mendengarkan karya musisi indie.
Hal
ini juga dibenarkan Pepi seorang mahasiswa penikmat musik indie, menurutnya
meskipun musik indie banyak perkembangannya, khususnya pada bertambahnya jenis platform,
dan banyaknya musisi yang mau manggung
di cafe-cafe atau festival musik. Namun, kenyataanya tetap saja banyak yang
belum tertarik pada musik ini.
"Banyak
yang gak paham (musik indie), pernah gue rekomendasi lagunya Barasuara ke temen
gue, dan mereka jawab ‘musik lu apaan si Pep’. Dan gue cuma bisa ketawa,”
tuturnya.
Jadi,
apa anda sudah bosan dengan musik mainstream
yang bahkan beberapa lagu bisa didengar lebih dari tiga kali di radio? Maka
musisi indie telah menunggu anda untuk dilirik karyanya.
Arsip Blog
Diberdayakan oleh Blogger.
Pe-nu-lis
Blog ini ber-isi-kan berbagai hasil kerja si Herdi, rencananya si Herdi ingin mempraktekan ilmu yang dia dapat selama kuliah. Bagaimana jadinya? Yuk simak terus blog ini.




